Kamis, 19 April 2012

SEJARAH ILMU FIQIH

SEJARAH ILMU FIQIH
Pengertian Fiqh: menurut bahasa Fiqh berarti paham, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Thaha ayat 28-29, QS. Hud ayat 91, QS. Attaubah ayat 122, QS. AnNisa ayat 78.
Sedangkan menurut pemahaman generasi awal Umat Islam (zaman sahabat dan thabi’in), Fiqh berarti: pemahaman yang mendalam terhadap Islam secara utuh.
Dan sekarang Fiqh dipahami dengan:
Ilmu hokum Islam yang mengatur pelaksanaan ibadah-ibadah ritual yang menguraikan tentang detail perilaku Muslim dan kaitannya dengan lima prinsip pokok yaitu wajib, sunnah, haram, makruh, mubah, serta membahas tentang hukum kemasyarakatan (muamalah).
Sejarah Perkembangan Ilmu Fiqh:
·         Awalnya, sahabat Nabi belum membutuhkan piranti untuk mengatur kehidupan mereka. Mereka tinggal mengikuti Nabi SAW dari cara berwudhu, sholat, haji, puasa, dll.
·         Lalu, ketika wilayah Islam meluas, muncul persoalan-persoalan hokum baru.
·         Namun demikian, para sahabat berusaha sebaik-baiknya (ijtihad) untuk memberi keputusan legal agama berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad SAW.
Perbedaan pendapat yang muncul, seperti:
§  Perbedaan pendapat tentang masalah riba antara sahabat Ibnu Abbas dengan Ibnu Mas’ud.
§  Tentang arti quru’ untuk masa menunggu (iddah) bagi istri yang dicerai, antara sahabat Umar bin Khathab dengan Zayd Ibnu Tsabit.
Pada masa generasi sesudah sahabat/ masa Thabi’in, timbullah tiga divisi besar yaitu Irak, Hijaz, dan Syria.
·         Di Irak, terdapat dua golongan Fiqh yaitu di Basrah dan Kufah.
·         Di Syria aktivitasnya tidak begitu dikenal kecuali lewat karya Abu Yusuf.
·         Di Hijaz, terdapat dua pusat aktivitas hokum, di Mekkah dan Madinah. Di antara keduanya, Madinah lebih dikenal menjadi pelopor dalam perkembangan hukum Islam di Hijaz.
Beberapa ulama Fiqh:
1.       Al Muwat-Tha’ oleh Imam Malik bin Annas (179 H/ 795 M)
Sesuai dengan permintaan Khalifah Al-Mansyur. Kitab ini berisi ilmu Hadis dan ilmu Fiqh.
2.       Imam Abu Yusuf, murid Abu Hanifah yang menulis beberapa buah buku serupa berdasarkan khotbah dari Abu Hanifah dari kalangan ahli Fiqh Kufah.
3.       Muhammad bin Idris Ash Shafi’I (204 H/ 820 M)
Beliau lebih sering  disebut Imam Syafi’i. Pendiri Madzhab Syafi’iah yang merupakan salah satu murid Imam Malik, dengan buku Al-Um yang merupakan pegangan Madzhab Syafi’iah.
4.       Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal (241 H/ 855 M)
Disebut Imam Hanbali. Pendiri Madzhab Hanabalah. Beliau adalah murid sekaligus guru Imam Syafi’i.
Setelah tahun 241 H/ 855 M, saat Imam Hanbali wafat, maka berakhirlah era hukum Islam yang independen (Mujtahid Mutiaq). Secara faktual, para ahli Fiqh setelah itu cukup berafiliasi pada salah satu metode pengambilan hukum (ushul fiqh) yang ditetapkan oleh Imam madzhab yang empat di atas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar